Bagi yang mengalami kesulitan login
dapat mengirimkan email ke email St. Agnes
Email: Password:
Lupa Password
Renungan
Dipostingkan tanggal: 2018-01-08
Oleh: Fano

"Aku cuma bisa sampe jam 4 aja ya soalnya travelku jam 5"
"Mau kemana kamu?"
"Ya pasti pulang lah" (dijawab sama orang lain)
"Hadu, pulangan kamu"
_________
"Seru banget ya kemarin"
"Hah? Apa?"
"Dia kan gaikut. Jadinya gatau"
"Oh iya sih. Makanya jangan pulang mulu!"
__________
Sampai sekarang, saya masih belajar. Belajar untuk tidak mengejek, memojokkan, atau menyalahkan.

Saya berusaha memahami bahwa
mereka yang pulang, mungkin memang butuh pulang.
Butuh makan masakan ibu,ceramahnya ayah, tengilnya kakak, atau mungkin ejekan adiknya. Mereka butuh untuk sekedar 'melihat' dan mungkin tertawa lepas dengan semua keluarganya.

Selama mereka tidak merepotkanmu, selama mereka  masih meluangkan waktu mengerjakan tugas kelompok diantara quality time bersama keluarganya, selama mereka tidak lupa bahwa senin pagi harus kembali kuliah, selama itu juga, kalian tak perlu risau.

Cobalah untuk ada di posisi orang tuanya, 

"Bu, dedek kok belum pulang ya? Udah sebulan, ayah kangen nih"

Atau cobalah untuk ada di posisi adik kecilnya,

"Kakak kok belum pulang ya? Biasanya kalo ada PR kayak gini aku nanyanya sama kakak"

Mungkin mereka bisa komunikasi melalui handphone, tapi jelas rasanya akan berbeda dengan pertemuan secara langsung.

Terkadang kita merasa mereka anak mama, anak manja dsb, tapi pernahkah kalian tau betapa senangnya orang tua mereka melihat kedatangan anaknya?

Sebuah kisah datang dari sepupu saya, yang saat itu merantau untuk melanjutkan pendidikan. Ia bercerita bahwa sejak beberapa bulan sebelumnya, ibunya meminta untuk dia pulang, karena ayahnya  sedang sakit. Namun, sepupu saya berpikir  bahwa ayahnya akan sembuh, selain itu ia masih disibukkan dengan urusan pendidikannya hingga akhirnya ia menerima kabar bahwa Tuhan telah memanggil ayahnya. Sungguh, penyesalan yang amat dalam ia rasakan. Bahkan di detik detik terakhir ayahnya, ia tak sempat menemani.

Lain cerita, guru saya mengatakan bahwa karena perpisahan kedua orang tuanya membuat beliau harus menahan rindu untuk bertemu ayahnya selama 2 tahun.

Setelah 2 tahun, beliau dan ayahnya bisa bertemu. Beliau berkata bahwa ayahnya sangat senang dan berterimakasih padanya karena mau bertemu lagi dengan ayahnya. Namun tak disangka kalau pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir dengan ayahnya, karena 2 minggu setelah pertemuan itu, ayah beliau wafat.

Begitulah, tak ada yang tahu Rencana-Nya dan sekarang saya paham, bahwa pulang ke rumah adalah sebuah keistimewaan. Maka selagi bisa, pulanglah. Jangan biarkan penyesalan- penyesalan selanjutnya datang.

Saras Dwi Anugrah P.K.  Jurnalis MOST Lulus tahun 2015

 

Jumlah Pengunjung:

© 2013 StAgnes WEB - Powered by iSTTS